Ragam Bahasa


Ragam Bahasa.

Bahasa dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu selalu digunakan sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan yang juga tertentu sifatnya. Maksudnya dan tujuan sebuah pemakai bahasa juga dapat dipandang sebagai salah satu sosok penentu variasi atau ragam bahasa. 
Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Masyarakat bahasa yang hanya memiliki satu macam bahasa saja menggunakan sosok bahasa yang satu tersebut dalam aneka pemakaian dan kebutuhan. Kebutuhan untuk menyampaikan nuansa keindahan, kebutuhan untuk mengungkapkan warna kesakralan, dan kebutuhan untuk menyatakan keformalan, semuanya hanya dapat diwakili oleh satu sosok bahasa saja dalam masyarakat monolingual.

Tetapi, daalam masyarakat bilingual atau multingual, seperti juga masyarakat bahasa indonesia, aneka pemakaian dan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh ragam-ragam bahasa yang banyak jumlahnya, variasi-variasi bahasa yang cenderung berciri inferior, gaya-gaya bahasa yang berada dalam peringkat kedua atau ketiga, lantaran mereka merupakan bawahan dari bahasa indonesia sendiri yang menjadi payungnya.  Maksudnya, jika situasi dan kondisi serta kebutuhan pemakaiannya memang menuntut untuk santai. Bahkan, tidak aneh pula jika ditemukan bahwa di dalam pemakaian yang demikian ini banyak digunakan bentuk-bentuk dari bahasa baku yang sengaja disantaikan. Bentuk-bentuk yang demikian itu biasanya ditandai oleh rupa-rupa kelonggaran aturan, pemotongan bentuk-bentuk tertentu sehingga digunakan secara tidak penuh, bahkan juga dengan pemelesetan bagian bentuk tertentu sehingga benar-benar memenuhi kriteria kesantaian.

Jika situasi dan kondisi pemakaiannya menuntut bentuk-bentuk fantastis dan romantis, ragam bahasa suastra, ragam bahasa literer, atau ragam yang indah akan banyak digunakan. Ragam bahasa indah atau yang bergaya literer demikian ini banyak ditandai oleh sejumlah penyimpangan kebahasaan, tetapi memang penyimpangan itu dilakukan demi tujuan keindahan dan keapikan tertentu. Orang dapat merekayasa bahasa yang digunakannya sedemikian rupa, sehingga bunyinya cukup ritmis dan serba seimbang, misalnya vokalisasinya. Pemotongan-pemotongan dan pemakaian bentuk-bentuk pendek sering kali juga digunakan, tetapi rekayasa bahasa yang demikian itu selalu dilakukan secara bermaksud dan bertujuan, tidak merupakan tindakan kesemena-menaan. Itulah yang dalam dunia sastra sering disebut dengan istilah licentia poetika, yakni pemberian kewenangan kepada para pekerja sastra untuk merekayasa bahasa sedemikian rupa demi tujuan litirer atau suastra. Dengan penggunaan ragam bahasa yang demikian ini orang sering dibawa terbang berkelana, bermimpi, dan berandai-andai demi maksud yang hendak disampaikan atau dilontarkan itu. Banyak ditemukan bentuk penyanjungan dan pelebih-lebihan dalam pcandraan sosok ternetu, banyak ditemukan pleonasme, hiperbola, metafora, dan sejenisnya, sehingga kadangkala justru melebihi kenyataan yang sesungguhnya. Berkenaan dengan semua ini, lihatlah bahasa literernya orang yang sedang jatuh cinta atau mabuk asmara lewat surat-surat cinta yang dituliskan atau ditorehkannya. Di dalam budaya jawa dan budaya sunda, misalnya saja, cermatilah bahasanya seorang dalang di dalam pertunjukan ceritanya. Juga dalam setiap larik tembang-tembangnya, akan jelas sekali kelihatan nuansa besar keindahan atau kelitererannya.


Dalam masyarakat multingual lazimnya juga ada bahasa yang digunakan untuk menyampaikan maksud suci atau tujuan sakral. Perhatikanlah bahasanya orang yang sedang berdo’a di tempat-tempat ibadah keagamaan tertentu. Juga, perhatikanlah bahasa orang yang sedang menyampaikan sesajian di tempat-tempat yang di anggap keramat. Mereka menggunakan bahassa ragam keramat yang bernuansa suci, yang tentu saja tidak dapat disamakan dengan bahasa ragam lainnya. Lalu, bahasa nasional, bahasa yang telah dibakukan dan dikodifikasikan secara ketat, biasanya memang digunakan untuk memancarkan keformalan atau keresmian. Tetapi kadangkala pemakaian bahasa standar, bahasa yang telah dibakukan, dirasa tidak selalu cukup oleh warga masyarakat bahasa tertentu yang demikian erat dengan ikon-ikon bahasa tertentu dalam bahasa daerah atau bahaa ibunya. Maka, leksikon-leksikon bahasa daerah yang lekat dengan dirinya itu akan banyak mencuat pula dalam pemakaian bahasa baku atau bahasa standar.
Berkenaan dengan ini pula, cermatilah karyawan-karyawan institusi swasta atau instansi negeri di daerah-daerh yang masih cukup kuat nuansa birokrasi dan kefeodalannya. Mereka banyak menggunakan bahasa indonesia yang diselipi lekiskon-leksikon tertentu dalam bahasa daerahnya. Tujuannya adalah untuk memberikan penghormatan atau penghargaan kepada mitra tuturnya, lantaran dalam masyarakat bahasa tertentu, bahasa daerah memang memiliki peran dan fungsi untuk memberikan penghormatan dan penghargaan itu. Penjelasan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa sosok bahasa atau dialek bahasa tertentu rerlebih-lebih dalam masyarakat yang bilingual atau multingual, dapat berfungsi sebagai manifestasi ragam bahasa itu sendiri. Jadi, sosok bahasa di dalam masyarakat bilingual atau multingual memiliki dua manifestasi, yakni sebagai sosok ragam bahasa itu sendiri dan di sisi lain sebagai wadah dari ragam-ragam bahasa yang di payunginya.












Macam-macam Ragam Bahasa dan Contohnya
Yaitu bisa dibagi 3 berdasarkan media,cara pandang penutur, dan topik pembicaraan.
1. Ragam bahasa berdasarkan media

a.   Ragam bahasa Media (Lisan)

Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan kalimat dan unsur-unsur didalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicara menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicara lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicara lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa dituliskan, ragam bahasa itu tidak bisa disebut ragam bahasa tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan cir-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
 - Memerlukan orang kedua/teman bicara.
 - Tergantung kondisi, ruang, dan waktu.
Contohnya; “Sudah saya baca buku itu”


b.      Ragam Tulis

Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulisan makna kalimat yang diungkapkan nya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalomat. Oleh karrena itu, penggunaan ragam baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk katadan struktur kalimat, serta kelengkapaan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis:
1.      Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara
2.      Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu
3.      Harus memperhatikan unsur gramatikal
4.      Berlangsung lambat
5.      Selalu memakai alat bantu
6.      Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi
 7.     Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.

Contohnya: “Saya sudah membaca buku itu”.

Perbedaan antara ragam lisan dan tulisan (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata ) :
Tata Bahasa :

a.   Ragam Bahasa lisan

1)   Nia sedang baca surat kabar.
2)  Ari mau nulis surat.
3)  Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.

b.  Ragam bahasa tulisan.

1)  Nia sedang membaca surat kabar.
2)  Ari mau menulis surat.
3)  Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.

Kosa kata :

a.  Ragam bahasa lisan

1)   Ariani bilang kalau kita harus belajar.
2)   Kita harus bikin karya tulis.
3)   Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
b.   Ragam bahasa tulisan
1)   Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
2)   Kita harus membuat karya tulis.
3)   Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

2. Ragam bahasa Indonesia dari cara pandang penutur.

Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.

Contoh:
Ragam dialek     : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam terpelajar : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam resmi       : “Saya sudah mmbaca buku itu”
Ragam tak resmi  : “Saya sudah baca buku itu”

3.      Ragam bahasa Indonesia menurut topik pembicaraan.

Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra. 
Ragam hukum     : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam bisnis       : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam sastra       : Cerita itu menggunakan Flashback.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar