PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran Deduktif adalah suatu penalaran yang
berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau
diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat
lebih khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis,
definisi operasional,instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk
memahami suatu gejala terlebih dahuluharus memiliki konsep dan teori tentang
gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian dilapangan. Dengan
demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakankata
kunci untuk memahami suatu gejala.
Jenis Penalaran Deduktif
Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan
secara tidak langsung yaitu:
1. Silogisme
Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial
disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris.
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden,
simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya
juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan
disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan
disebut premis minor.
2.
Silogisme
Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri
atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor
bersifat hipotesis atau pengadaian dengan jika … konklusi tertentu itu terjadi,
maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi
pertama terjadi atau tidak terjadi.
3. Silogisme
Akternatif : silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Proposisi
minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu
alternatifnya. Konklusi tergantung dari premis minornya.
BENTUK PERNALARAN DEDUKTIF
Menurut bentuknya, pernalaran deduktif dibagi
menjadi dua yaitu:
a.
Silogisme,
dan
b. Entimen.
·
Silogisme
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, silogisme adalah bentuk, cara berpikir atau
menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan.
Silogisme merupakan suatu cara pernalaran yang formal. Namun, bentuk pernalaran
ini jarang dilakukan dalam komunikasi sehari-hari. Yang sering dijumpai
hanyalah pemakaian polanya, meskipun secara tidak sadar.
·
Silogisme
Kategorial
Adalah
silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung
silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis
mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang
termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut
adalah term penengah (middle term).
·
Silogisme
Hipotesis
Silogisme
hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik,
sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.
·
Silogisme
Disjungtif
Adalah
silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif sedangkan premis minornya
kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut
oleh premis mayor.
Entimen
Praktek
nyata berbahasa dengan pola silogisme memang jarang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari, baik tulisan maupun lisan. Namun entimen (yang pada dasarnya
adalah pola silogisme) sering dijumpai pemakaiannya. Di dalam entimen salah
satu premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Menipu
adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat
di atas dapat dipenggal menjadi 2 bagian:
- Menipu adalah dosa. >>
Kesimpulan
- Karena (menipu) merugikan orang lain.
>> Premis Minor, karena bersifat khusus.
Sumber:






0 komentar:
Posting Komentar